Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Maret 2010

hati

Guratan Pena Hati (joko pitoyo)

"Suami saleh menulis... Bila malam telah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah isteri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda.Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi gurat-gurat kepenatan, karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejab, Jikalau tidak ada air wudhu' yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tiada lagi.

Suami saleh menulis...Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih isteri Anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya.

Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan najis tiada habisnya. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi kencing lagi. Padahal tangan isteri Anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda fikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng, sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi isteri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai isteri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban isteri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja Jangan sampai Anda membiarkan isteri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak.

Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar.

Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang isteri salehah memang tidak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi isteri salehah tetap manusia yang memerlukan penerimaan.

Ia juga perlu diakui, meski tidak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, sediakan telinga yang selalu setia untuk mendengar.

Kalau kegelisahan jiwanya tidak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tidak pernah Anda akui kewujudannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan isteri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, isteri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tidak mau mendengar, melainkan semata-mata karena dibakar api cemburu. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi 'Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan.

Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang.

Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan fikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apapun dia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski dia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah isteri Anda yang terbaring letih itu. Lalu fikirkankah sejenak, tidak adakah yang bisa kita lakukan sekadar untuk mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang?

Boleh dengan kata yang berbunga-bunga, boleh juga tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman hangat untuk isteriku. Perlukah aku antarkan untuk itu?"

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekadar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, Mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tidak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarnya ke sekolah, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata-mata karena mencari ridho Allah.

Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tidak ada artinya apa yang kita lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah.

Allaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah kepada Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih...

Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tidak ada airmata duka yang menitis dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tidak ada lagi isteri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tidak didengar.

Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak isteri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda 'Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."

Sesudah engkau puas memandangi isterimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh isterimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak habisnya oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang isteri kita.

"Wahai manusia, sesungguhnya isteri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,"kata Rasulullah Saw. melanjutkan, 'kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus isteri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik."

Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya, ataukah kita mengabaikannya sehingga gurat-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya?

Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isteri? Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami, saya sudah cukup baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata isteri. Saya hanya berharap isteri saya benar-benar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahnya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya. Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk isteri Anda.

Ketika Sakura Merekah


Ketika Sakura Merekah
Penulis: Abu Aufa (http://www.abuaufa.net)

"Bercermin pada sketsa hari-hari Abu Aufa, menghadiahi
kita percik-percik cinta yang memantik fajar harapan.
Sebuah pemotretan manis dari seorang musafir
kehidupan, bingkisan buat jiwa yang setia meniti jalan
cinta-Nya." [Amatullah Shafiyyah, penulis]


Semilir angin menyapa lembut. Berhembus menabuh daun,
ranting kecil pepohonan pun menari meliuk-liuk. Di
langit, sinar mentari menelusup dari balik awan yang
bergelayut. Menyapa ramah, kemudian mendekap hangat
penghuninya.

Musim semi memang telah tiba. Tsukushi dan sumire juga
tampak bermunculan di sela rerumputan. Kembali,
ketakjuban bagi jiwa telah dibentangkan bahwa alam
semesta turut tunduk dan patuh pada peran dalam setiap
lakon-Nya. Di permukaan tanah, beragam bunga liar lain
berpadu menghamparkan permadani indah. Sejuk mata
memandang, jiwa seakan tak lagi dahaga.

Duhai...
Lihatlah pula sakura yang merekah di mana-mana.
Kelopaknya berwarna putih, sedikit dihiasi semburat
merah muda. Setiap tangkai itu sarat dipenuhi kuntum
bunga hingga tampak berjuntaian ingin mencumbu tanah.
Ketika angin menggodanya, ia pun menggeliat manja.

Sakura di musim semi memang selalu menebar pesona.
Kehadirannya tak pernah lupa dinantikan jutaan manusia
di negerinya. Seperti biasa mereka duduk berkelompok
di bawah pohon, seraya menikmati keindahannya. Bahkan,
tak peduli waktu siang atau malam. Tak jarang pula
banyak yang bernyanyi-nyanyi atau sekedar mengabadikan
kecantikannya

Namun, walaupun bunga sakura indah menawan, usianya
tak pernah panjang. Satu persatu kelopaknya akan jatuh
berguguran. Hanya berkisar selama dua pekan, punah lah
semua. Pohonnya akan penuh daun saat musim panas,
kemudian rontok ketika musim gugur menjelang.
Sepanjang musim dingin, hanya dahan dan rantingnya
yang tersisa. Sakura akan kembali mekar ketika musim
semi kembali tiba.

Subhanallah...
Maha suci diri-Mu ya Allah. Kau ciptakan sakura yang
indah karena Engkau-lah Sang Pemilik Keindahan.

Dan, bukankah sebuah fitrah pula bahwa manusia
menyukai segala yang indah. Rasa ini akan membuahi
putik-putik kasih, kemudian merekah menjadi bunga
cinta yang bersemi di hati.

Dari rasa cinta yang fitri itu pula -insya Allah-
tercipta sebuah karya anyar Abu Aufa dengan Penerbit
Pena-Jakarta, SAPA CINTA DARI NEGERI SAKURA. Ia yang
dhaif akan mengajak kita untuk selalu mengasah nurani
agar senantiasa peka atas jati diri ini. Merundukkan
hati, berharap agar hidup dapat berjalan sesuai dengan
harmoni.

Ia pun ingin menyapa dengan cinta yang tak hanya
tersirat pada tebaran kata seorang pujangga atau
selarik tembang asmara. Bukankah cinta yang demikian
akan usai bila telah tiba waktunya?

Baginya, cinta hakiki itu lahir dari hati yang
merunduk pasrah, seraya meratakan kening pada hamparan
sajadah. Meneteskan air mata kerinduan serta tak
pernah lelah merengkuh dari Sang Pemiliknya.

Wallahu a'lamu bish-shawaab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,


Abu Aufa

Catatan:
- Tsukushi: sejenis rumput yang muncul ketika musim
semi tiba, batangnya tegak dan menggelembung di bagian
atas
- Sumire: bunga kecil berwarna ungu yang juga akan
terlihat di sela rerumputan saat musim semi menjelang